Breaking News
Home » Korporasi » Gelombang PHK korban dari “The Death of Samurai”
Logo_bw_660x330

Gelombang PHK korban dari “The Death of Samurai”

Beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2012 Sebuah artikel menarik pernah ditulis oleh seorang blogger dan juga seorang konsultan di bidang Corporate Performance Management, Yodhia Antariksa. ya, pada tahun tersebut banyak mata terbuka dan hati yang berdebar oleh mulai runtuhnya kedigdayaan industri di negeri sakura, khususnya industri elektronik yang beberapa periode sebelumnya begitu digdaya menguasai pasar dunia pelan-pelan memasuki masa-masa yang sulit, masa-masa yang kelam. Harga-harga saham mereka secara pelan tapi pasti mulai roboh, bertumbangan secara teratur.
Tulisannya tentang “The Death of Samurai : Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo” seakan-akan telah meramalkan akan masa depan pelaku industri tersebut tinggal tunggu waktunya saja, termasuk di Indonesia

ditahun yang sama, Beberapa nama terdepan di industrinya seperti Sony, Panasonic, Sharp dan Toshiba satu persatu mulai mengumumkan kesulitan meraka kepada publik. Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Pemain di industri sejenis lainnya Sanyo bahkan berencana akan menjual Perusahaannya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka.




Beberapa minggu terakhir, Kekhawatiran dari meluas dan bertambahnya korban dari cerita “The Death of Samurai” terus merambah hingga ke Indonesia, Dua raksasa elektronik Jepang PT Panasonic di Cikarang dan Pasuruan serta PT Toshiba di Cikarang mulai menutup perusahaannya di Indonesia yang mengakibatkan ribuan buruh di PHK. Secara global, Toshiba mengumumkan kerugian hingga 50 triliun rupiah. Sementara Sharp Jepang sebentar lagi akan mati, dicaplok oleh Foxconn, raksasa elektronik dari China.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan, Toshiba telah menutup pabrik televisi di Kawasan Industri Cikarang, Jawa Barat. Padahal satu pabrik ini yang tersisa dari enam perusahaan Toshiba lain yang sudah tutup sebelumnya dalam 10 tahun terakhir. “Yang tutup ini adalah pabrik televisi Toshiba terbesar di Indonesia, selain di Jepang. Karyawan yang di PHK lebih dari 900 orang,” tegasnya saat Konferensi Pers di Jakarta pada awal Februari

Said mengatakan, penutupan pabrik bakal dieksekusi pada April 2016. Saat ini, sedang terjadi proses negosiasi pesangon antara manajemen perusahaan dengan serikat pekerja pabrik tersebut.

Menanggapi hal ini, Chairman Panasonic Gobel Group dalam sebuah kesempatan wawancara dengan wartawan di Jakarta baru-baru ini, Rachmat Gobel menegaskan pihaknya tengah melakukan rasionalisasi. “Panasonic akan merestrukturisasi tiga pabrik lampu yang dimilikinya di Indonesia”, ungkapnya. Rachmat menambahkan, rencananya Panasonic akan menutup pabrik lampu yang ada di Cikarang, Jawa Barat. Sedangkan yang akan dipertahankan yaitu pabrik yang berlokasi di Pasuruan dan Cileungsi.

“Pabriknya memang ada tiga lokasi, itu kita jadikan satu. Salah satu tempat ditutup, karena kan efisien, yang biasanya dilakukan di tiga pabrik kini gabung. Yang dihentikan di Cikarang. Di Pasuruan belum, satu lagi di Cileungsi. Itu biasa dalam manajemen, Panasonic kan punya komitmen di Indonesia jadi produk yang kita ciptakan mengikuti perkembangan zaman,” jelas rahmat.

Rachmat mengakui adanya dampaknya dari restrukturisasi tersebut. Perusahaan terpaksa melakukan pengurangan pekerja di pabrik yang dilebur, “Saat ini Panasonic memiliki sekitar 20 ribu pekerja. Lantaran adanya rencana rasionalisasi ini, perusahaan terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja sekitar 1.000 orang”

“Itu otomatis karena kita lakukan rasionalisasi mesin dan added value kan teknologinya lebih advance, pasti terjadi (pengurangan tenaga kerja) tidak bisa tidak. Panasonic punya karyawan mencapai lebih dari 20 ribu orang, ini (yang di pHK) cuma sekitar 1.500 atau 1.000 orang sekian lah,” ujarnya.

Namun demikian, jika program restrukturisasi pabrik ini telah berjalan dengan baik dan kembali terjadi peningkatan produksi, maka bukan tidak mungkin akan ada penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.

“Bahkan dengan adanya peningkatan produksi dari produk baru nanti, nanti mungkin ada penambahan tenaga kerja kembali,” kata dia.

Rachmat berpesan, serikat pekerja agar tidak selalu melakukan tuntutan tanpa peningkatan produktivitas dan memikirkan keberlangsungan perusahaan.

“Tapi yang penting industrinya jalan, serikat pekerja hanya menuntut tidak perduli industrinya jalan atau tidak. Yang kita perlukan bangun industrinya dulu, karena kan ada industrinya dulu baru ada serikat pekerja. Sekarang saya turunkan (jumlah pekerja), tapi kalau ada peningkatan produksinya nanti akan saya tambah lagi. Tapi kan industrinya harus dikembangkan dulu,” tandasnya.

header niko 728 x 90

Check Also

Indonesia Energi Monitoring [INDERING]. [/Okeebos.com]

INDERING Mendesak Jokowi-JK Reformasi Perusahaan dan Penanam Modal Pengelola Sumber Daya Alam Indonesia

Okeebos.com, Jakarta – Sejak dahulu Bangsa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah dan …

header niko 728 x 90
if(function_exists('load_comments')) { load_comments(); }